Welcome to mR.nAb's Zone

Monday, October 31, 2011

Asal Usul Terjadinya Danau Toba


Pada zaman dahulu ada seorang petani bernama Toba yang menyendiri di sebuah lembah yang landai dan subur. Petani itu mengerjakan sawah dan ladang utnuk keperluan hidupnya. Selain mengerjakan ladangnya, kadang-kadang lelaki itu pergi memancing ikan ke sungai yang berada tak jauh dari rumahnya. Setiap kali dia memancing, mudah saja ikan didapatnya karena di sungai yang jernih itu memang banyak sekali ikan. Ikan hasil pancingannya dia masak untuk dimakan.


Pada suatu sore, setelah pulang dari ladang lelaki itu langsung pergi ke sungai untuk memancing. Tetapi sudah cukup lama dia memancing, tak seekor ikan pun didapatnya. Kejadian yang begitu belum pernah dia alami. Sebab biasanya ikan di sungai itu mudah saja dia pancing. Karena sudah terlalu lama tak ada juga kan yang memakan umpan pancingnya, dia jadi kesal dan memutuskan untuk berhenti saja memancing. Tetapi ketika dia hendak menarik pancingnya, tiba-tiba pancing itu disambar ikan yang langsung menarik pancing itu jauh ke tengah sungai. Hatinya yang tadi sudah kesal berubah menjadi gembira, karena dia tahu bahwa ikan yang menyambar pancingnya itu adalah ikan yang besar. Setelah beberapa lama ia biarkan pancingnya ditarik ikan itu kesana kemari, barulah pancing itu ditariknya perlahan-lahan. Ketika pancing itu disentakkannya tampaklah seekor ikan besar tergantung dan menggelepar-gelepar di ujung tali pancingnya. Dengan cepat ikan itu ditariknya ke darat supaya tidak lepas. Sambil tersenyum gembira mata pancingnya dia lepas dari mulut ikan itu. Pada saat dia sedang melepaskan mat apancing itu, ikan tersebut memandangnya dengan penuh arti. Kemudian, setelah ikan itu diletakkannya ke satu tempat dia pun masuk ke dalam sungai untuk mandi. Perasaannya gembira sekali karena belum pernah dia mendapat ikan sebesar itu. Dia tersenyum sambil membayangkan betapa enaknya nanti daging ikan itu kalau sudah dipanggang. Ketikan dia meninggalkan sungai utnuk pulang ke rumahnya hari sudah mulai senja. Setibanya di rumah, lelaki itu langsung membawa ikan besar hasil pancingannya itu ke dapur. Ketika dia hendak menyalakan api untuk memanggang ika itu, ternyata kayu bakar di dapurnya sudah habis. Dia segera keluar untuk mengambil kayu bakar dari bawah kolong rumahnya. Kemudian, sambil membawa bbeapa potong kayu bakar dia naik kembali ke atas rumah dan langsung menuju dapur.


Pada saat lelaki itu tiba di dapur, dia terkejut sekali karena ikan besar itu sudah tidak ada lagi. Tetapi di tempat ikan itu tadi diletakkan tempat erhampar bebeapa keping uang emas. Karena terkejut dan heran mengalami keadaan yang aneh itu, dia meninggalkan dapur dan masuk ke kamar.

Ketika lelaki itu membuka pintu kamar, tiba-tiba darahnya tersirap karena di dalam kamar itu berdiri seorang perempuan dengan rambut yang panjang terurai. Perempuan itu sedang menyisir rambutnya sambil berdiri menghadap cermin yang tergantung pada dinding kamar. Sesaat kemudian, perempuan itu tiba-tiba membalikkan badannya dan memandang lelaki itu yang tegak kebingungan di mulut pintu kamar. Lelaki itu menjadi sangat terpesona karena wajah perempuan yang berdiri di hadapannya luar biasa cantiknya. Dia belum pernah melihat perempuan secantik itu meskipun dahulu dia sudah jaun mengembara ke berbagai negeri.

Karena hari sudah malam, perempuan itu minta agar lampu dinyalakan. Setelah lelaki itu menyalakan lampu, dia diajak perempuan itu mengawaninya ke dapur karena dia hendak memasak nasi untuk mereka. Sambil menunggu nasi masak, diceritakan oleh perempuan itu bahwa dia adalah penjelmaan dari iakn besar yang tadi didapat lelaki itu ketika memancing di sungai. Kemudian dijelaskannya pula bahwa beberapa keping uang emas yang terletak di dapur itu adalah penjelmaan sisiknya. Setelah beberapa minggu perempuan cantik itu tinggal serumah bersamanya, pada suatu hari lelaki itu melamar perempuan tersebut untuk jadi istrinya. Perempuan tersebut menyatakan bersedia menerima lamarannya dengan syarat lelaki itu harus bersumpah bahwa seumur hidupnya dia tidak akan pernah mengungkit asal usul istrinya yang menjelma jadi ikan. Setelah lelaki itu bersumpah demikian, kawinlah mereka.

Setahun kemudian, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang mereka beri nama samosir. Anak itu sangat dimanjakan ibunya yang mengakibatkan anak itu berabiat kurang baik dan pemalas.

Seelah cukup besar, anak itu disuruh ibunya mengantar nasi setiap hari untuk ayahnya yang bekerja di ladang. Namun, sering dia menolak mengerjakan tugas itu sehingga terpaksalah ibunya yang mengantarkan nasi ke ladang.

Suatu hari, anak itu disuruh ibunya lagi mengantarkan nasi ke ladang utnuk ayahnya. Mulanya dia menolak. Akan tetapi, karena terus dipaksa ibunya, dengan kesal pergilah dia mengantarkan nsi itu. Di tengah jalan, sebagian besar nasi dan lauk pauknya dia makan. Setibanya di laang, sisa nasi yang hanya tinggal sedikit dia berikan kepada ayahnya. Saat menerimanya, si ayah sudah sangat lapar karena nasinya sudah sangat erlambat sekali diantarkan. Oelh karena itu, maka si ayah jadi sangat marah ketika melihat nasi yang diberikan kepadanya adalah sisa-sisa. Amarahnyamakin bertambah ketika anak nya mengaku bahwa dia yang memakan sebagian besar dari nasi itu. Kesabaran si ayah menjadi hilang dan dia pukuli anaknya sambil mengatakan “Anak yang tak bisa diajar. Tidak tahu diuntung. Betul-betul kau anak keturunan perempuan yang berasal dari ikan!”

Sambil menangis, anak itu berlari pulang menemui ibunya di rumah. Kepada ibunya dia adukan bahwa dia dipukuli ayahnya. Semua kata-kata cercaan yang diucapkan ayahnya kepadanya diceritakan pula. Mendengar cerita anaknya itu, si ibu sedih sekali, terutama karena suaminya sudah melanggar sumpahnya dengan kata-kata cercaan yang dia ucapkan kepada anaknya itu. Si ibu menyuruh anaknya agar segra pergi mendaki bukit yang terletak tak begitu jauh dari rumah mereka dan memanjat pohon kayu tertinggi yang erdapat di puncak bukit itu. Tanpa bertanya lagi, si anak segera melakukan prinah ibunya itu. Dia berlari-lari menuju ke bukit tersebut dan mendakinya.

Ketika tampak oleh si ibu anaknya sudah hampir sampai ke puncak pohon kayu yan dipanjatnya di atas bukit, dia pun berlari menuju sungai yang tidak begitu jauh letaknya dirumah mereka itu. Ketika di tiba ditepi sungai itu kilat menyamar disertai bunyi guruh yang menggelegar. Sesaat kemudian dia melompat ke dalam sungai dan tiba-tiba berubah menjadi seekor ikan besar. Pada saat yang sama, sungai itupun banjir besar dan turun pula hujan yang sangat lebat. Bebrapa waktu kemudian, air sungai itu sudah meluap ke mana-mana dan tenggelamlah lembah tempat sungai itu mengalir. Pak Toba tidak bisa menyelamatkan dirinya, ia mati tenggelam oleh genangan air. Lama-kelaman, genangan air itu semakin luas dan berubah menjadi danau yang sangat besar yang kemudian hari dinakaan orang danau toba. Sedang pulau kecil di tengah-tengahnya diberi nama Pulau Samosir.
Sumber : http://folktalesnusantara.blogspot.com
Read More.....

Batu Gantung

Alkisah, di sada huta terpencil di pinggiran Danau Toba Sumatera Utara, hiduplah sepasang suami-istri dengan seorang anak perempuannya yang cantik jelita bernama Seruni. Selain rupawan, Seruni juga sangat rajin membantu orang tuanya bekerja di ladang. Setiap hari keluarga kecil itu mengerjakan ladang mereka yang berada di tepi Danau Toba, dan hasilnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.


Suatu hari, Seruni pergi ke ladang seorang diri, karena kedua orang tuanya ada keperluan di desa tetangga. Seruni hanya ditemani oleh seekor anjing kesayangannya bernama si Toki. Sesampainya di ladang, gadis itu tidak bekerja, tetapi ia hanya duduk merenung sambil memandangi indahnya alam Danau Toba. Sepertinya ia sedang menghadapi masalah yang sulit dipecahkannya. Sementara anjingnya, si Toki, ikut duduk di sebelahnya sambil menatap wajah Seruni seakan mengetahui apa yang dipikirkan majikannya itu. Sekali-sekali anjing itu menggonggong untuk mengalihkan perhatian sang majikan, namun sang majikan tetap saja usik dengan lamunannya.

Memang beberapa hari terakhir wajah Seruni selalu tampak murung. Ia sangat sedih, karena akan dinikahkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pemuda yang masih saudara sepupunya. Padahal ia telah menjalin asmara dengan seorang pemuda pilihannya dan telah berjanji akan membina rumah tangga yang bahagia. Ia sangat bingung. Di satu sisi ia tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya, dan di sisi lain ia tidak sanggup jika harus berpisah dengan pemuda pujaan hatinya. Oleh karena merasa tidak sanggup memikul beban berat itu, ia pun mulai putus asa.

“Ya, Tuhan! Hamba sudah tidak sanggup hidup dengan beban ini,” keluh Seruni.

Beberapa saat kemudian, Seruni beranjak dari tempat duduknya. Dengan berderai air mata, ia berjalan perlahan ke arah Danau Toba. Rupanya gadis itu ingin mengakhiri hidupnya dengan melompat ke Danau Toba yang bertebing curam itu. Sementara si Toki, mengikuti majikannya dari belakang sambil menggonggong.

Dengan pikiran yang terus berkecamuk, Seruni berjalan ke arah tebing Danau Toba tanpa memerhatikan jalan yang dilaluinya. Tanpa diduga, tiba-tiba ia terperosok ke dalam lubang batu yang besar hingga masuk jauh ke dasar lubang. Batu cadas yang hitam itu membuat suasana di dalam lubang itu semakin gelap. Gadis cantik itu sangat ketakutan. Di dasar lubang yang gelap, ia merasakan dinding-dinding batu cadas itu bergerak merapat hendak menghimpitnya.

“Tolooooggg……! Tolooooggg……! Toloong aku, Toki!” terdengar suara Seruni meminta tolong kepada anjing kesayangannya.

Si Toki mengerti jika majikannya membutuhkan pertolongannya, namun ia tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali hanya menggonggong di mulut lubang. Beberapa kali Seruni berteriak meminta tolong, namun si Toki benar-benar tidak mampu menolongnnya. Akhirnya gadis itu semakin putus asa.

“Ah, lebih baik aku mati saja daripada lama hidup menderita,” pasrah Seruni.

Dinding-dinding batu cadas itu bergerak semakin merapat.

“Parapat[2]… ! Parapat batu… Parapat!” seru Seruni menyuruh batu itu menghimpit tubuhnya..

Sementara si Toki yang mengetahui majikannya terancam bahaya terus menggonggong di mulut lubang. Merasa tidak mampu menolong sang majikan, ia pun segera berlari pulang ke rumah untuk meminta bantuan.

Sesampai di rumah majikannya, si Toki segera menghampiri orang tua Seruni yang kebetulan baru datang dari desa tetangga berjalan menuju rumahnya.

“Auggg…! auggg…! auggg…!” si Toki menggonggong sambil mencakar-cakar tanah untuk memberitahukan kepada kedua orang tua itu bahwa Seruni dalam keadaan bahaya.

“Toki…, mana Seruni? Apa yang terjadi dengannya?” tanya ayah Seruni kepada anjing itu.

“Auggg…! auggg…! auggg…!” si Toki terus menggonggong berlari mondar-mandir mengajak mereka ke suatu tempat.

“Pak, sepertinya Seruni dalam keadaan bahaya,” sahut ibu Seruni.

“Ibu benar. Si Toki mengajak kita untuk mengikutinya,” kata ayah Seruni.

“Tapi hari sudah gelap, Pak. Bagaimana kita ke sana?” kata ibu Seruni.

“Ibu siapkan obor! Aku akan mencari bantuan ke tetangga,” seru sang ayah.

Tak lama kemudian, seluruh tetangga telah berkumpul di halaman rumah ayah Seruni sambil membawa obor. Setelah itu mereka mengikuti si Toki ke tempat kejadian. Sesampainya mereka di ladang, si Toki langsung menuju ke arah mulut lubang itu. Kemudian ia menggonggong sambil mengulur-ulurkan mulutnya ke dalam lubang untuk memberitahukan kepada warga bahwa Seruni berada di dasar lubang itu.

Kedua orang tua Seruni segera mendekati mulut lubang. Alangkah terkejutnya ketika mereka melihat ada lubang batu yang cukup besar di pinggir ladang mereka. Di dalam lubang itu terdengar sayup-sayup suara seorang wanita: “Parapat… ! Parapat batu… Parapat!”

“Pak, dengar suara itu! Itukan suara anak kita! seru ibu Seruni panik.

“Benar, bu! Itu suara Seruni!” jawab sang ayah ikut panik.

“Tapi, kenapa dia berteriak: parapat, parapatlah batu?” tanya sang ibu.

“Entahlah, bu! Sepertinya ada yang tidak beres di dalam sana,” jawab sang ayah cemas.

Pak Tani itu berusaha menerangi lubang itu dengan obornya, namun dasar lubang itu sangat dalam sehingga tidak dapat ditembus oleh cahaya obor.

“Seruniii…! Seruniii… !” teriak ayah Seruni.

“Seruni…anakku! Ini ibu dan ayahmu datang untuk menolongmu!” sang ibu ikut berteriak.

Beberapa kali mereka berteriak, namun tidak mendapat jawaban dari Seruni. Hanya suara Seruni terdengar sayup-sayup yang menyuruh batu itu merapat untuk menghimpitnya.

“Parapat… ! Parapatlah batu… ! Parapatlah!”

“Seruniiii… anakku!” sekali lagi ibu Seruni berteriak sambil menangis histeris.

Warga yang hadir di tempat itu berusaha untuk membantu. Salah seorang warga mengulurkan seutastampar (tali) sampai ke dasar lubang, namun tampar itu tidak tersentuh sama sekali. Ayah Seruni semakin khawatir dengan keadaan anaknya. Ia pun memutuskan untuk menyusul putrinya terjun ke dalam lubang batu.

“Bu, pegang obor ini!” perintah sang ayah.

“Ayah mau ke mana?” tanya sang ibu.

“Aku mau menyusul Seruni ke dalam lubang,” jawabnya tegas.

“Jangan ayah, sangat berbahaya!” cegah sang ibu.

“Benar pak, lubang itu sangat dalam dan gelap,” sahut salah seorang warga.

Akhirnya ayah Seruni mengurungkan niatnya. Sesaat kemudian, tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Bumi bergoyang dengan dahsyatnya seakan hendak kiamat. Lubang batu itu tiba-tiba menutup sendiri. Tebing-tebing di pinggir Danau Toba pun berguguran. Ayah dan ibu Seruni beserta seluruh warga berlari ke sana ke mari untuk menyelamatkan diri. Mereka meninggalkan mulut lubang batu, sehingga Seruni yang malang itu tidak dapat diselamatkan dari himpitan batu cadas.

Beberapa saat setelah gempa itu berhenti, tiba-tiba muncul sebuah batu besar yang menyerupai tubuh seorang gadis dan seolah-olah menggantung pada dinding tebing di tepi Danau Toba. Masyarakat setempat mempercayai bahwa batu itu merupakan penjelmaan Seruni yang terhimpit batucadas di dalam lubang. Oleh mereka batu itu kemudian diberi nama “Batu Gantung”.

Beberapa hari kemudian, tersiarlah berita tentang peristiwa yang menimpa gadis itu. Para warga berbondong-bondong ke tempat kejadian untuk melihat “Batu Gantung” itu. Warga yang menyaksikan peristiwa itu menceritakan kepada warga lainnya bahwa sebelum lubang itu tertutup, terdengar suara: “Parapat… parapat batu… parapatlah!”

Oleh karena kata “parapat” sering diucapkan orang dan banyak yang menceritakannya, maka Pekan yang berada di tepi Danau Toba itu kemudian diberi nama “Parapat”. Parapat kini menjadi sebuah kota kecil salah satu tujuan wisata yang sangat menarik di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia.
Sumber : http://bersamatoba.com
Read More.....

Si Mardan


Berbagai kisah dan cerita tentang legenda anak durhaka. Di antaranya, Malin Kundang di Sumatera Barat yang disumpah menjadi batu, Sampuraga di Mandailing Natal Sumatera Utara yang konon katanya, berubah menjadi sebuah sumur berisi air panas.
Di Kota Tanjungbalai, akibat durhaka terhadap ibunya, seorang pemuda dikutuk menjadi sebuah daratan yang dikelilingi perairan, yakni Pulau Simardan.

Berbagai cerita masyarakat Kota Tanjungbalai, Simardan adalah anak wanita miskin dan yatim. Pada suatu hari, dia pergi merantau ke negeri seberang, guna mencari peruntungan.

Setelah beberapa tahun merantau dan tidak diketahui kabarnya, suatu hari ibunya yang tua renta, mendengar kabar dari masyarakat tentang berlabuhnya sebuah kapal layar dari Malaysia. Menurut keterangan masyarakat kepadanya, pemilik kapal itu bernama Simardan yang tidak lain adalah anaknya yang bertahun-tahun tidak bertemu.
Bahagia anaknya telah kembali, ibu Simardan lalu pergi ke pelabuhan. Di pelabuhan, wanita tua itu menemukan Simardan berjalan bersama wanita cantik dan kaya raya. Dia lalu memeluk erat tubuh anaknya Simardan, dan mengatakan, Simardan adalah anaknya. Tidak diduga, pelukan kasih dan sayang seorang ibu, ditepis Simardan. Bahkan, tanpa belas kasihan Simardan menolak tubuh ibunya hingga terjatuh.

Walaupun istrinya meminta Simardan untuk mengakui wanita tua itu sebagai ibunya, namun pendiriannya tetap tidak berubah. Selain itu, Simardan juga mengusir ibunya dan mengatakannya sebagai pengemis.

Berasal Dari Tapanuli

Sebelum terjadinya peristiwa tersebut, Pulau Simardan masih sebuah perairan tempat kapal berlabuh. Lokasi berlabuhnya kapal tersebut, di Jalan Sentosa Kelurahan Pulau Simardan Lingkungan IV Kota Tanjungbalai, kata tokoh masyarakat di P. Simardan, H.Daem, 80, warga Jalan Mesjid P. Simardan Kota Tanjungbalai.
Tanjungbalai, terletak di 20,58 LU (Lintang Utara) dan 0,3 meter dari permukaan laut. Sedangkan luasnya sekitar 6.052,90 ha dengan jumlah penduduk kurang lebih 144.979 jiwa (sensus 2003-red).
Walaupun peristiwa tersebut terjadi di daerah Tanjungbalai, Daem mengatakan, Simardan sebenarnya berasal dari hulu Tanjungbalai atau sekitar daerah Tapanuli.
Hal itu juga dikatakan tokoh masyarakat lainnya, Abdul Hamid Marpaung, 75, warga Jalan Binjai Semula Jadi Kota Tanjungbalai. “Daerah asal Simardan bukan Tanjungbalai, melainkan di hulu Tanjungbalai, yaitu daerah Porsea Tapanuli,” jelasnya.

Menjual Harta Karun

Dari berbagai cerita atau kisah tentang legenda anak durhaka, biasanya anak pergi merantau untuk mencari pekerjaan, dengan tujuan merubah nasib keluarga.
Berbeda dengan Simardan, dia merantau ke Malaysia untuk menjual harta karun yang ditemukannya di sekitar rumahnya, kata Marpaung.

“Simardan bermimpi lokasi harta karun. Esoknya, dia pergi ke tempat yang tergambar dalam mimpinya, dan memukan berbagai macam perhiasan yang banyak,” tutur Marpaung. Kemudian, Simardan berencana menjual harta karun yang ditemukannya itu, dan Tanjungbalai merupakan daerah yang ditujunya. Karena, jelas Marpaung, berdiri kerajaan besar dan kaya di Tanjungbalai. Tapi setibanya di Tanjungbalai, tidak satupun kerajaan yang mampu membayar harta karun temuan Simardan, sehingga dia terpaksa pergi ke Malaysia. “Salah satu kerajaan di Pulau Penang Malaysialah yang membeli harta karun tersebut. Bahkan, Simardan juga mempersunting putri kerajaan itu,” ungkapnya.

Berbeda dengan keterangan Marpaung, menurut H.Daem, tujuan Simardan pergi merantau ke Malaysia untuk mencari pekerjaan. Setelah beberapa tahun di Malaysia, Simardan akhirnya berhasil menjadi orang kaya dan mempersunting putri bangsawan sebagai isterinya.

Malu

Setelah berpuluh tahun merantau, Simardan akhirnya kembali ke Tanjungbalai bersama isterinya. Kedatangannya ke Tanjungbalai, menurut Daem, untuk berdagang sekaligus mencari bahan-bahan kebutuhan. Kalau menurut Marpaung, Simardan datang ke Tanjungbalai dilandasi karena tidak memiliki keturunan. Jadi atas saran orang tua di Malaysia, pasangan suami isteri itu pergi ke Tanjungbalai. Lebih lanjut dikatakan Marpaung, berita kedatangan Simardan di Tanjungbalai disampaikan masyarakat kepada ibunya. Gembira anak semata wayangnya kembali ke tanah air, sang ibu lalu mempersiapkan berbagai hidangan, berupa makanan khas keyakinan mereka yang belum mengenal agama. “Hidangan yang disiapkan ibunya adalah makanan yang diharamkan dalam agama Islam,” tutur Marpaung.
Dengan sukacita, ibu Simardan kemudian berangkat menuju Tanjungbalai bersama beberapa kerabat dekatnya. Sesampainya di Tanjungbalai, ternyata sikap dan perlakuan Simardan tidak seperti yang dibayangkannya.

Simardan membantah bahwa orang tua tersebut adalah wanita yang telah melahirkannya. Hal itu dilakukan Simardan, jelas Marpaung, karena dia malu kepada isterinya ketika diketahui ibunya belum mengenal agama. “Makanan yang dibawa ibunya adalah bukti bahwa keyakinan mereka berbeda.”
Sementara menurut H. Daem, perlakuan kasar Simardan karena malu melihat ibunya yang miskin. “Karena miskin, ibunya memakai pakaian compang-comping. Akibatnya, Simardan tidak mengakui sebagai orangtuanya.”

Kera Putih dan Tali Kapal

Setelah diperlakukan kasar oleh Simardan, wanita tua itu lalu berdoa sembari memegang payudaranya. “Kalau dia adalah anakku, tunjukkanlah kebesaran-Mu,” begitulah kira-kira yang diucapkan ibu Simardan. Usai berdoa, turun angin kencang disertai ombak yang mengarah ke kapal layar, sehingga kapal tersebut hancur berantakan. Sedangkan tubuh Simardan, menurut cerita Marpaung dan Daem, tenggelam dan berubah menjadi sebuah pulau bernama Simardan.

Para pelayan dan isterinya berubah menjadi kera putih, kata Daem dan Marpaung. Hal ini disebabkan para pelayan dan isterinya tidak ada kaitan dengan sikap durhaka Simardan kepada ibunya. Mereka diberikan tempat hidup di hutan Pulau Simardan. “Sekitar empat puluh tahun lalu, masih ditemukan kera putih yang diduga jelmaan para pelayan dan isteri Simardan,” jelas Marpaung. Namun, akibat bertambahnya populasi manusia di Tanjungbalai khususnya di Pulau Simardan, kera putih itu tidak pernah terlihat lagi.

Di samping itu, sekitar tahun lima puluhan masyarakat menemukan tali kapal berukuran besar di daerah Jalan Utama Pulau Simardan. Penemuan terjadi, ketika masyarakat menggali perigi (sumur). Selain tali kapal ditemukan juga rantai dan jangkar, yang diduga berasal dari kapal Simardan, kata Marpaung.
“Benar tidaknya legenda Simardan, tergantung persepsi kita. Tapi dengan ditemukannya tali, rantai dan jangkar kapal membuktikan bahwa dulu Pulau Simardan adalah perairan.”
Sumber : http://www.silaban.net
Read More.....

Si Piso Somalim

Dahulu kala hiduplah seorang raja di daerah Rura Silindung yang bernama Punsahang Mataniari-Punsahang Mata ni Bulan, Raja yang sangat makmur dan kaya raya. Raja ini mempunyai seorang saudara putri yang bernama siboru Sandebona yang kemudian kawin dengan raja Panuasa dari kampung Uluan.Suatu saat Siboru sandebona mengandung seorang anak laki-laki, akan tetapi setelah genap waktunya bayi ini tidak kunjung lahir, kemudian Siboru Sandebona kebingungan, lalu menemui seorang dukun sakti untuk menanyakan apa yang bakal terjadi dengan anak yang ada di dalam kandungannya. Dusun sakti kemudian memberikan jawaban bahwa bayi ini akan menjadi seorang laki-laki yang memiliki kharisma dan kelebihan tersendiri.


Begitulah setelah lahir, bayi ini diberi nama Sipiso Somalim. Setelah dewasa Sipiso Somalim sudah menunjukkan kelebihan tersendiri dalam kehidupan sehari-harinya. Pada suatu saat dia disuruh orangtuanya untuk membajak sawah dengan menggunakan tenaga kerbau, dia hanya duduk tenang, namun kerbau ini dapat disuruhnya bekerja sendiri untuk membajak sawah itu. Dalam sikapnya terhadap orang-orang sekitarnya, dia sangat sopan dan berbudi baik. Bahkan semua tindak tanduknya mencerminkan sikap seorang anak-raja.

Pada usia sudah matang, Sipiso Somalim tetap saja pada pendiriannya untuk meminang putri pamannya, ibunya tidak kuasa lagi menolak permintaan Sipiso Somalim. Lalu suatu ketika ibunya memberangkatkan Sipiso Somalim yang didampingi seorang pengawalnya yaitu Sipakpakhumal.

Dengan mengenakan pakaian kebesaran serta bekal secukupnya termasuk “Pungga Haomasan” (obat penangkal lapar dan haus), Sipiso Somalim berangkat menuju kampung pamannya Rura Silindungdn menelusuri hutan lebat, dengan jalan yang penuh resiko, seperti ancaman dari binatang buas mereka pun berjalan hingga suatu hari tiba pada sebuah pancuran yang sangat sejuk. Melihat sejuknya air pancuran ini, Sipiso Somalim meminta agar mereka berhenti dan mandi untuk melepas rasa letih. Kemudian dia menanggalkan pakaian kebesarannya dan selanjutnya meminta Sipakpakhumal untuk menjaganya.

Adapun Sipakpakhumal sejak keberangkatannya dengan Sipiso Somalim sudah memiliki niat jahat bagaimana agar dia dapat berperan sebagai Sipiso Somalim agar selanjutnya dapat memperistri putri Punsahang Mataniari. Maka dengan diam-diam dia mengenakan pakaian kebesaran Sipiso Somalim seperti layaknya seorang raja. Karena asiknya Sipiso Somalim mandi, dia tidak menghiraukan apa yang telah diperbuat Sipakpakhumal tadi. Setelah siap mandi betapa terkejutnya Sipiso Somalim menyaksikan Sipakpakhumal yang telah mengenakan pakainnya, dan sama sekali dia tidak dapat berbuat apa-apa, karena dengan pakaian ini kharisma Sipiso Somalim langsung pindah Sipakpakhumal.

Sipakpakhumal kemudian dengan menghunus pedang, dan suara lantang berkata, “sejak sekarang ini sayalah yang menjadi Sipiso Somalim dan kau menjadi Sipakpakhumal, kita akan terus menuju kampung Pusahang Mataniari dan jangan sekali-kali bicara pada siapapun bahwa aku telah menggantikanmu sebagai Sipiso Somalim, dan apabila hal ini kau ceritakan pada siapapun kau akan kubunuh, mengerti,” . Mendengar semua ini Sipiso Somalim tidak dapat bebuat apa-apa kecuali hanya tunduk serta menerima apa yang terjadi.

Perjalananpun dilanjutkan dan sejak itu, Sipiso Somalim dipanggil menjadi Sipakpakhumal dan demikian sebaliknya, Sipakpakhumal menjadi Sipiso Somalim. Selama dalam perjalanan, Sipakpakhumal yang sebelumnya adalah Sipiso Somalim tetapmenunjukkan sikap baik pada Sipiso Somalim, dan selama itu pula Sipakpakhumal tidak habis piker bagaimana perasaan ibu yang dia tinggalkan sebab sebelum berangkat dia berpesan kepada ibunya agar ibunya memperhatikan sebatang pohon yang dia tanam di dekat rumahnya, apabila pohon itu layu berarti dia mendapat kesulitan di tengah jalan, dan apabila mati maka dia telah mati diperjalanan.

Setelah berjalan beberapa hari akhirnya mereka tiba di Rura Silindung tempat Punsahang Mataniari-Punsahang Mata ni Bulan. Meilhat Sipiso Somalim datang Punsahang Mataniari terus tahu bahwa dia adalah anak saudarinya yaitu Siboru Sandebona. Lalu dengan langsung dia memeluk Sipiso Somalim meskipun sebenarnya dia memiliki firasat bahwa ada yang kurang beres dengan keponakannya itu, tetapi mereka tidak menunjukkan bahkan memperlakukannya Sipiso Somalim seperti keluarganya sendiri. Adapun Sipakpakhumal yang merupakan Sipiso Somalim yang sebenarnya tetap diam dan tidak berani berbuat apa-apa dan dia diperlakukan sebagai layaknya seorang pembantu.

Lama kelamaan Sipakpakhumal yang mengaku sebagai Sipiso Somalim makin menunjukkan sikap yang kurang baik terhadap keluarga pamannya maupun kepada Sipakpakhumal. Sebagaimana tujuan keberangkatan Sipiso Somalim untuk meminang putri pamannya, suatu ketika dia menyampaikan hasrat tersebut kepada pamannya. Akan tetapi untuk sementara, pamannya menolak dengan cara halus dengan alasan agar jangan terburu-buru dulu. Semua ini tentu karena pamannya makin hari makin curiga terhadap Sipakpakhumal yang mengaku sebagai Sipiso Somalim.

Rasa gelisah tetap menyelimuti hati ibu Sipiso Somalim, di kampung halaman, lalu kemudian dia kembali mengirimkan seekor kerbau yang bernama “Horbo Sisapang Naualu”. Ketika kerbau ini sampai Punsahang Mataniari memanggil Sipiso Somalim untuk mengiring kerbau ini kekandang. Akan tetapi saat dia mendekat kerbau ini mengamuk dan hampir menanduk Sipakpakhumal. Dengan kejadian ini, Punsahang Mataniari semakin menyadari bahwa ada yang tidak beres diantara Sipiso Somalim dan Sipakpakhumal. Kemudian Punsahang Mataniari memanggil Sipakpakhumal untuk mengiring kerbau tadi. Pada saat Sipakpakhumal mendekat, kerbau ini langsung mendekat seperti bersujud.

Kedatangan kerbau ini, bagi Sipakpakhumal mengetahui bahwa itu sengaja dikirim oleh ibunya dari kampung halaman. Sehingga pada saat dia menggembalakan kerbau ini di sawah dia membuka tanduk kerbau ini ternyata di dalamnya terdapat berbagai jenis alat musik dan perhiasan kerajaan sementara kerbau ini membajak sawah, dia memainkan alat-alat musik tadi sehingga karena merdunya segenap burung yang terbang diangkasa turut bernyanyi ria.

Pada siang hari, datanglah putri Punsahang Mataniari untuk mengantar makanan Sipakpakhumal. Setelah dekat, dia sangat terkejut mendengar musik yang sangat merdu yang diiringi oleh nyanyi ria yang banyak bertengger diatas dahan, ternyata yang memainkan musik ini adalah Sipapakhumal. Lebih terkejut lagi, pada saat dia memperhatikan bahwa kerbau tersebut membajak sawah tanpa digembalakan Sipakpakhumal.

Dengan rasa gugup dan ketakutan, Sipakpakhumal menerima makanan itu dari putri Punsahang Mataniari, dasar curiga, putri Punsahang Mataniari pamit seolah-olah pulang ke rumah akan tetapi dia bersembunyi dibalik sebuah pohon besar untuk mengamati dari dekat tindak tanduk Sipakpakhumal. Sipakpakhumal merasa bahwa putri Punsahang Mataniari sudah jauh lalu diambilnya nasi tersebut dan ditaburkannya untuk makanan burung yang semuanya mengelilingi Sipakpakhumal. Kemudian dia merogoh kantongnya dan mengambil sebuah benda kecil yang disebut “pungga haomasan”.

Pungga haomasan ini kemudian dicium dan dijilat lalu seketika itu dia kenyang sebagaimana layaknya makan nasi. Pungga haomasan ini diberikan ibunya saat dia berangkat dahulu dan sampai saat itu tetap berada ditangannya. Sehingga selama ini pun Punsahang Mataniari sebenarnya juga curiga karena pengetahuannya Sipakpakhumal tidak pernah makan tetapi tetap mengaku kenyang. Menyaksikan semua apa yang terjadi putri Punsahang Mataniari cepat-cepat menemui dan memberitahukan apa yang dia saksikan kepada ayahnya Punsahang Mataniari, dan ayahnya pun semakin yakin bahwa Sipakpakhumal yang dijadikan pembantu adalah Sipiso Somalim yang sebenarnya.

Sementara itu, Sipakpakhumal yang mengaku Sipiso Somalim semakin mendesak pamannya agar dia dikawinkan dengan putri pamannya. Hingga pada suatu ketika, pamannya mempertanyakan kepada putrinya yang paling sulung agar berkenan menerima Sipakpakhumal yang mengaku sebagai Sipiso Somalim menjadi suaminya akan tetapi dia menolak permintaan itu. Kemudian Punsahang Mataniari menawarkan kepada anak perempuannya nomor dua dan ternyata putrinya itu mau. Lalu malalui upacara adat mereka dikawinkan.

Putri sulung Punsahang Mataniari meminta kepada ayahnya untuk menggelar upacara dengan membunyikan seperangkat musik dan mengundang semua pemuda yaitu anak raja-raja yang berada disekeliling kampungnya. Untuk menari dan dia ingin memilih salah satu dari antara mereka untuk menjadi suaminya. Acara sudah digelar akan tetapi tak satu orangpun dari pemuda itu berkenan di hati putrinya Punsahang Mataniari, namun diluar dugaan, tiba-tiba seorang pemuda menunggang kuda dan berpakaian kerajaan tiba-tiba muncul dipesta itu, semua orang tercengang dan seketika itu pula pemuda itu meninggalkan pesta itu.

Dengan kehadiran pemuda itu, sang putri mengatakan kepada ayahnya bahwa dia sangat tertarik kepada pemuda tersebut dan meminta kepada ayahnya agar dia menyuruh para pengawal untuk mencari asal pemuda tadi. Para pengawalnyapun mengikuti jejak pemuda tadi dan akhirnya mereka tiba pada suatu tempat yaitu tempatnya Sipakpakhumal untuk mengembalakan ternak tuannya. Para pengawalmya heran sebab ada tanda-tanda bahwa Sipakpakhumal lah lelaki yang baru saja hadir di pesta itu, karena sesaat setelah Sipakpakhumal berada di gubuknya lalu ia menukar pakaiannya seperti semula dan pakaian kebesaran itu adalah pemberian ibunya yang dikirimkan melalui kerbau itu dan setelah dia sampai dipondoknya, pakaian kebesaran itupun ditanggalkan dan memakai pakaian biasa.

Para pengawal kemudian kembali dan melaporkan kepada Punsahang Mataniari bahwa mereka telah tidak menemukan jejak pemuda itu. Dengan hati tidak sabar, Punsahang Mataniari kemudian memangil si Piso Somalim serta bertanya apa yang pernah terjadi antara mereka berdua. Karena Punsahang Mataniari mengancam akan membunuh apabila dia bohong maka Si Piso Somalim mengaku dengan terus terang apa yang telah dia lakukan terhadap Sipakpakhumal sehingga Sipiso Somalim yang sebenarnya akhirnya dijadikan sebagai Sipakpakhumal dan demikian juga sebaliknya.

Dengan perasaan berang sebenarnya ingin menghukum Sipakpakhumal ini, akan tetapi karena Punsahanng Mataniari sadar bahwa Sipakpakhumal telah terlanjur menantunya sehingga dia tidak dapat berbuat apa-apa.Begitupun karena Sipakpakhumal menyadari kesalahannya dan merasa hidupnya akan terancam, besok harinya pada pagi-pagi buta dia melarikan diri beserta istrinya yang menurut cerita berangkat menuju Sumatera Timur.

Pada kedua kalinya, atas permintaan putri Punsahang Mataniari, kembali digelar acara adat dengan membunyikan seperangkat alat musik, dan pada saat acara berakhir tiba-tiba seorang pemuda dengan menunggang kuda “Siapas Puli” kembali hadir setelah menari-nari sejenak akhirnya menghilang. Baik Punsahang Mataniari maupun putri sulung menganggap bahwa yang datang itu adalah Sipiso Somalim yang sebenarnya dan yang selama 7 tahun telah terlanjur mereka jadikan sebagai pembantu dan semua ini adalah atas ulah dari kebohongan Sipakpakhumal yang selama ini mengaku sebagai Sipiso Somalim.

Maka pada saat itu juga, Punsahang Mataniari memerintahkan para pengawal untuk menjemput Sipakpakhumal dari tempatnya dan membawanya terhadap Punsahang Mataniari. Pakpakhumal sebenarnya apa yang terjadi dan sebelumnya dia menolak untuk menemui Punsahang Mataniari akan tetapi setelah dibujuk akhirnya diapun mau.

Pertemuan dengan Punsahang Mataniari beserta seluruh keluarganya sangat mengharukan. Pada saat itu akhirnya Sipakpakhumal yang sebenarnya adalah Sipiso Somalim menceritakan semua yang terjadi sejak diberangkatkan Ibunya 7 tahun yang lalu akhirnya mendapat malapetaka atas ulah licik Sipakpakhumal yang sebenarnya. Pada saat itu pamannya menyampaikan maaf yang sebenarnya atas apa yang terjadi selama 7 tahun ini.

Suasanapun berobah, suatu saat pamannya mengutarakan bahwa mereka memiliki hasrat untuk menjadikan Sipiso Somalim sebagai menantunya. Pada awalnya Sipiso Somalim menolak akan tetapi setelah dia pertimbangkan masak-masak akhirnya dia terima dan pesta perkawinanpun dilaksanakan dengan menggelar upacara adat.

Sipiso Somalim akhirnya menikah denngan putri pamannya sesuai dengan keberangkatannya untuk menemui pamannya Punsahang Mataniari 7 tahun yang silam dan pada suatu waktu dia beserta istrinya meninggalkan Rura Silindung dan kembali menemui Ibunya di kampung halamannya yaitu Kampung Uluan.
Sumber : http://rapolo.wordpress.com
Read More.....

Legenda Tuak


Pohon Enau dalam bahasa Indonesia disebut pohon aren, dan sugar palm atau gomuti palm dalam bahasa Inggris. Di Sumatera, tumbuhan ini dikenal dengan berbagai sebutan, di antaranya ‘nau, hanau, peluluk, biluluk, kabung, juk atau ijuk, dan bagot.’

Tumbuhan ini dapat tumbuh dengan baik dan mampu mendatangkan hasil yang melimpah pada daerah-daerah yang tanahnya subur, terutama pada daerah berketinggian antara 500-800 meter di atas permukaan laut, misalnya di Tanah Karo Sumatera Utara.
Tumbuhan enau atau aren dapat menghasilkan banyak hal, yang menjadikannya populer sebagai tanaman serba-guna, setelah tumbuhan kelapa. Salah satunya adalah tuak(nira). Selain sebagai minuman sehari-hari, tuak memiliki fungsi yang sangat penting dalam kehidupan sosial-budaya bagi sebagian masyarakat Batak di Sumatera Utara, terutama yang tinggal di daerah dataran tinggi.
Dalam tradisi orang Batak, tuak juga digunakan pada upacara-upacara tertentu, seperti upacara manuan ompu-ompu dan manulangi. Pada upacara manuan ompu-ompu, tuak digunakan untuk menyiram beberapa jenis tanaman yang ditanam di atas tambak orang-orang yang sudah bercucu meninggal dunia.
Sementara dalam upacara manulangi, tuak merupakan salah satu jenis bahan sesaji yang mutlak dipersembahkan kepada arwah seseorang yang telah meninggal dunia oleh anak-cucunya. Pertanyaannya adalah kenapa tuak(nira) memiliki fungsi yang amat penting dalam kehidupan sosial-budaya orang Batak?
Menurut cerita, pohon enau merupakan jelmaan dari seorang gadis bernama Beru Sibou. Peristiwa penjelmaan gadis itu diceritakan dalam sebuah cerita rakyat yang sangat terkenal di kalangan masyarakat Tanah Karo, Sumatera Utara. Cerita itu mengisahkan tentang kesetiaan si Beru kepada abangnya, Tare Iluh. Ia tidak tega melihat penderitaan abangnya yang sedang dipasung oleh penduduk suatu negeri. Oleh karena itu, ia mencoba untuk menolongnya. Apa yang menyebabkan Abangnya, Tare Iluh, dipasung oleh penduduk negeri itu? Bagaimana cara Beru Siboau menolong abangnya?
Alkisah, pada zaman dahulu kala di sebuah desa yang terletak di Tanah Karo, Sumatera Utara, hiduplah sepasang suami-istri bersama dua orang anaknya yang masih kecil. Yang pertama seorang laki-laki bernama Tare Iluh, sedangkan yang kedua seorang perempuan bernama Beru Sibou. Keluarga kecil itu tampak hidup rukun dan bahagia.
Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, karena sang suami sebagai kepala rumah tangga meninggal dunia, setelah menderita sakit beberapa lama. Sepeninggal suaminya, sang istri-lah yang harus bekerja keras, membanting tulang setiap hari untuk menghidupi kedua anaknya yang masih kecil. Oleh karena setiap hari bekerja keras, wanita itu pun jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Si Tare dan adik perempuannya yang masih kecil itu, kini menjadi anak yatim piatu. Untungnya, orang tua mereka masih memiliki sanak-saudara dekat. Maka sejak itu, si Tare dan adiknya diasuh oleh bibinya, adik dari ayah mereka.
Waktu terus berjalan. Si Tare Iluh tumbuh menjadi pemuda yang gagah, sedangkan adiknya, Beru Sibou, tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik. Sebagai seorang pemuda, tentunya Si Tare Iluh sudah mulai berpikiran dewasa. Oleh karena itu, ia memutuskan pergi merantau untuk mencari uang dari hasil keringatnya sendiri, karena ia tidak ingin terus-menerus menjadi beban bagi orang tua asuhnya.
“Adikku, Beru!” demikian si Tare Iluh memanggil adiknya.
“Ada apa, Bang!” jawab Beru.
“Kita sudah lama diasuh dan dihidupi oleh bibi. Kita sekarang sudah dewasa. Aku sebagai anak laki-laki merasa berkewajiban untuk membantu bibi mencari nafkah. Aku ingin pergi merantau untuk mengubah nasib kita. Bagaimana pendapat Adik?” tanya Tare Iluh kepada adiknya.
“Tapi, bagaimana dengan aku, Bang?” Beru balik bertanya.
“Adikku! Kamu di sini saja menemani bibi. Jika aku sudah berhasil mendapat uang yang banyak, aku akan segera kembali menemani adik di sini,” bujuk Tare kepada adiknya.
“Baiklah, Bang! Tapi, Abang jangan lupa segera kembali kalau sudah berhasil,” kata Beru mengizinkan abangnya, meskipun dengan berat hati.
“Tentu, Adikku!” kata Tare dengan penuh keyakinan.
Keesokan harinya, setelah berpamitan kepada bibi dan adiknya, si Tare Iluh berangkat untuk merantau ke negeri orang. Sepeninggal abangnya, Beru Sibou sangat sedih. Ia merasa telah kehilangan segala-segalanya. Abangnya, Tare Iluh, sebagai saudara satu-satunya yang sejak kecil tidak pernah berpisah pun meninggalkannya. Gadis itu hanya bisa berharap agar abangnya segera kembali dan membawa uang yang banyak.
Sudah berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun ia menunggu abangnya, tapi tak kunjung datang jua. Tidak ada kabar tentang keadaan abangnya. Ia tidak tahu apa yang dilakukannya di perantauan. Sementara itu, Tare Iluh di perantauan bukannya mencari pekerjaan yang layak, melainkan berjudi. Ia beranggapan bahwa dengan memenangkan perjudian, ia akan mendapat banyak uang tanpa harus bekerja keras. Tetapi sayangnya, si Tare Iluh hanya sekali menang dalam perjudian itu, yaitu ketika pertama kali main judi. Setelah itu, ia terus mengalami kekalahan, sehingga uang yang sudah sempat terkumpul pada akhirnya habis dijadikan sebagai taruhan. Oleh karena terus berharap bisa menang dalam perjudian, maka ia pun meminjam uang kepada penduduk setempat untuk uang taruhan. Tetapi, lagi-lagi ia mengalami kekalahan.
Tak terasa, hutangnya pun semakin menumpuk dan ia tidak dapat melunasinya. Akibatnya, si Tare Iluh pun dipasung oleh penduduk setempat. Suatu hari, kabar buruk itu sampai ke telinga si Beru Sibou. Ia sangat sedih dan prihatin mendengar keadaan abangnya yang sangat menderita di negeri orang. Dengan bekal secukupnya, ia pun pergi mencari abangnya, meskipun ia tidak tahu di mana negeri itu berada. Sudah berhari-hari si Beru Sibou berjalan kaki tanpa arah dan tujuan dengan menyusuri hutan belantara dan menyebrangi sungai, namun belum juga menemukan abangnya. Suatu ketika, si Beru Sibou bertemu dengan seor ang kakek tua.
“Selamat sore, Kek!”
“Sore, Cucuku!” Ada yang bisa kakek bantu?”
“Iya, Kek! Apakah kakek pernah bertemu dengan abang saya?”
“Siapa nama abangmu?”
“Tare Iluh, Kek!”
“Tare Iluh…? Maaf, Cucuku! Kakek tidak pernah bertemu dengannya. Tapi, sepertinya Kakek pernah mendengar namanya. Kalau tidak salah, ia adalah pemuda yang gemar berjudi.”
“Benar, Kek! Saya juga pernah mendengar kabar itu, bahkan ia sekarang dipasung oleh penduduk tempat ia berada sekarang.
Apakah kakek tahu di mana negeri itu?
“Maaf, Cucuku! Kakek juga tidak tahu di mana letak negeri itu. Tapi kalau boleh, Kakek ingin menyarankan sesuatu.”
“Apakah saran Kakek itu?”
“Panjatlah sebuah pohon yang tinggi. Setelah sampai di puncak, bernyanyilah sambil memanggil nama abangmu. Barangkali ia bisa mendengarnya. Setelah menyampaikan sarannya, sang Kakek pun segera pergi. Sementara si Beru Sibou, tanpa berpikir panjang lagi, ia segera mencari pohon yang tinggi kemudian memanjatnya hingga ke puncak. Sesampainya di puncak, si Beru Sibou segera bernyanyi dan memanggil-manggil abangnya sambil menangis. Ia juga memohon kepada penduduk negeri yang memasung abangnya agar sudi melepaskannya.
Sudah berjam-jam si Beru Sibou bernyanyi dan berteriak di puncak pohon, namun tak seorang pun yang mendengarnya. Tapi, hal itu tidak membuatnya putus asa. Ia terus bernyanyi dan berteriak hingga kehabisan tenaga. Akhirnya, ia pun segera mengangkat kedua tangannya dan berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa.
“Ya, Tuhan! Tolonglah hambamu ini. Aku bersedia melunasi semua hutang abangku dan merelakan air mata, rambut dan seluruh anggota tubuhku dimanfaatkan untuk kepentingan penduduk negeri yang memasung abangku.”
Baru saja kalimat permohonan itu lepas dari mulut si Beru Sibou, tiba-tiba angin bertiup kencang, langit menjadi mendung, hujan deras pun turun dengan lebatnya diikuti suara guntur yang menggelegar. Sesaat kemudian, tubuh si Beru Sibou tiba-tiba menjelma menjadi pohon enau. Air matanya menjelma menjadi tuak atau nira yang berguna sebagai minuman. Rambutnya menjelma menjadi ijuk yang dapat dimanfaatkan untuk atap rumah. Tubuhnya menjelma menjadi pohon enau yang dapat menghasilkan buah kolang-kaling untuk dimanfaatkan sebagai bahan makanan atau minuman.
Demikianlah cerita “Kisah Pohon Enau” dari daerah Sumatera Utara. Hingga kini, masyarakat Tanah Karo meyakini bahwa pohon enau adalah penjelmaan si Beru Sibou. Untuk mengenang peristiwa tersebut, penduduk Tanah Karo pada jaman dahulu setiap ingin menyadap nira, mereka menyanyikan lagu enau.
Cerita di atas termasuk ke dalam cerita rakyat teladan yang mengandung pesan-pesan moral. Di antara pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah memupuk sifat tenggang rasa dan menjunjung tinggi persaudaraan, serta akibat buruk dari suka bermain judi. sifat tenggang rasa. Sifat ini tercermin pada sifat Beru Sibou yang sangat menjunjung tinggi tenggang rasa dan persaudaraan. Ia rela mengorbankan seluruh jiwa dan raganya dengan menjelma menjadi pohon yang dapat dimanfaatkan orang-orang yang telah memasung abangnya. Hal ini dilakukannya demi membebaskan abangnya dari hukuman pasung yang telah menimpa abangnya tersebut. Sifat tenggang rasa dan persaudaran yang tinggi ini patut untuk dijadikan suri teladan dalam kehidupan sehari-hari.
Sumber: http://www.budaya-indonesia.org/iaci/Legenda_Tuak
Read More.....

Friday, June 10, 2011

ANDUNG NI PEJABAT

(1. Amanta)
Inang ni sibutet
Peresiden nungnga margatti
Berantasonna ma korupsi beha ma i
Nungnga godang naung diperiksa
Nungnga godang naung dipenjara dongan-donganhi


(2. inanta)
Amang ni sibutet
Tongkin nai giliranta
Auditonna ma sude artanta
Ukkitonna do muse sinamot i
Sitaonna ma sude

Reff 1.
(inanta)
Villa na di Puncak i
Hotel na di Medan i
Showroom mobil
dohot pabrik na di Batam i
Jualonna nama i lelangonna nama i
Hepengna i masuk do i tu kas negara

(amanta)
Amang simatua mobil na hulean i
Hasil ni korupsi do i
Sotung leas roham
marnida ahu helam on
Molo gabe masuk penjara ahu


Read More.....

ANDIGAN MA HO RO

1.
Di sihabunian i sai marsak do au
Sai huingot langkangki
namarsada sada i
So adong mangapul au
Hapuasan ni arsakhi
A

2.
Molo golap ari I sai tangis do au
Ai soada donganki
laho masisungkunan i
Tung lungun, mansai lungun
Sasada au di borngin i

Reff.
Rongkap ni tondi, didia do ho
Jou tondingku na sai malungun i

Tinggil do rohangku umbege soaram
Didia, andigan ma ho ro
Andigan, andigan jumpang au.

Read More.....

ANAKHON HU

1.
Anakkon hu hasian
Burju burju ma ho sikkola
Sotung marisuang gogokki


2.
Bereng mai inangmi
naung bungkuk nang so matua
holan pasari sari ho amang

Reff .
Dang na mora au amang
manang par hauma na bidang
sotung laos marisuang
sasusena halojaonki o amang..........

Martaon ombun, didadang ari,
ditinggang udan do hami da amang
di balian i
Holan asa boi pasikkolahon ho

3.
Anakkon hu hasian
tangihon pangidoan kon
sotung marisuang gogokki.
Read More.....

ANAKHONHI DO HAMORAON DI AHU

Marhoi hoi pe au inang da
tu dolok tu toruan
Mangalului ngolu-ngolu
naboi parbodarian
Asal ma sahat gelleng hi da
sai sahat tu tujuan
Anakkon hi do hamoraon di au


Ai tung so boi pe ahu inang da
marsedan marberlian
Tarsongon dongan-dongan hida
na lobi passarian
Alai anakhonhi da
ndang jadi hatinggalan
Anakkon hi do hamoraon di au

Reff
Nang so tarihut hon
au pe angka dongan
ndada pola marsak au disi
alai anakhonhi da
dang jadi hatinggalan
Sian dongan magodang na i

Hugogo pe mansari
Arian nang botari
Laho pasingkolahon gellengki
na ikhon marsikkola satimbo timbona
singkap ni natolap gogohi

Ai tung so boi pe ahu inang da
Marnilon marjam tangan
Tarsongon dongan-donganki da
Na sedan marberlian
Alai sude na gellengki da
Dang jadi hatinggalan
anakkon hi do hamoraon di au
Read More.....

ANAK TERMINAL

1.
Marulakloni ahu ale inang
Mangalului, mangalului parkarejoan
Maos do da inang hubaen lamaranki
Alai tung sasude dos ude do da inang mandok lowongan nasoada


2.
Marabur ilukki ale inang
Paingot-ingot sude arsak ni roha
Nang siboru adi na tinongke ni roha
Lao do mangalua ala bagianki nasai di pengangguran i

Reff.
O amang……
Andigan pe ulaning
da asa jumpang najinalahan
O inang…..
Manang gurat-gurat ni tangan
do na mandok naung bagian

Tung ingkon di terminal on ma da inang ujung ni angan-angan
Ai so adong jalanghononta da inang tu bagian personalia
Paima dapot da inang parkarejoan hu hasabarhon nama i.

Read More.....

ANAK TADING MA ETEK

1.
Tio pe mual dang tarinum ahu
Porhot pe hau dang tarjangkit ahu
Tarsongon sandudu ngil-ngil na marsalaon i
Na hansit na di ahu ale inang
Gira do ahu tading-tadingan da nahinan


2.
Marumur ma ahu inang satonga taon
Ditinggalhon damang dainang i
Na hansit jala na bernit hutaon do i
Dipaninggalhon mi di ahu inong
Di ahu on anakhonmon na dangol on

Reff.
Dang tarsuhat be sidangolon inong
Dipaninggalhon mi di ahu
Dang tarsuhat be sidangolon inong
Di ahu anakmu na dangolon.

3.
Huhaol ma inong udeanmi
Hugaruk ma inong tanomanmi
Landit songon patung manongnong i
Hurimpu do bai pajumpang tu damang i
Hape naung sonang do di sinanongnongan i.
Read More.....

ANAK SASADA

1.
Di bona ni pasogiti i, di huta ni da ompung i tano hatubuankhi
Huta Parapat na uli, na di topi ni tao
i do tano hagodangankhi
Anak sasada ahu tahe, tading maetek
Dipanading ni damang dainang i
Molo hu ingot i marubaran ilungki


2.
Tung so adong na parosehon,
manarihon, paturehon, parngolu-ngoluonki
Ai tung tudia pe so tampil, tung tu aha pe so bolas ahu tahe ditingki i
Ai so martumbur, so marhabong,
nunga laho ahu jalan tu sihadaoan i
Molo hu ingot i, maraburan ilungki

Reff .
Da margampakhon naso gampak
Marimabanghon naso imbang
Di sihadaoan i
Na maramahon naso ama,
marinahon naso ina di tano sileban i

Na mumbang, na lonong,
na maup pe ahu taononku nama i.
Sahat tu ho ma i Mulajadi Na Bolon

3.
Hape dung ro ma sada tingki
Na mamboan parhusoran di bagian lapung i
Dung ro ma i kemerdekaan
Gabe i di ahu dalan lao masuk tentara i
Olat ni ima pasu-pasu, ido tampang
Sahat rodi na marhasohotan ahu
Mauliate ma Mulajadi Na Bolon

3.
Ipe pinuji ma goarMu Mulajadi Na Bolon
Saleleng ahu di tano on
Ala ni denggan ni basaM,
jala tung asi ni rohaM,
marnida ahu na sailaon
Urupi ma ahu, togu-togu ma ahu
Sahat tu joloan on
Mauliate ma Mulajadi Na Bolon (2x)


Back Reff ………..

Read More.....

ANAK NABURJU

Anakku naburju anak hasianku
anakku nalagu
ingot do ho amang di angka podani
natua tua mi
Dung hupaborhat ho namarsikkola i
tu luat na dao i amang
Benget do ho amang, benget do ho
manaon na hansit i


Molo hu ingot do, sude tahe amang
pangalahom naung salpu i
Sipata lomos do natua-tuamon
di sihabunian i
Hutangiangkon do mansai gomos amang
anggiat muba rohami
dijalo do amang dijalo do
tangiang hi amang

Reff.
Ipe amang, hasian ku anakku naburju
pagomos ma tangiang mi
tu mula jadi nabolon i

Anggiat ma ture
sude hamu pinomparhi amang
marsiamin aminan, marsitukkol-tukkolan
songon suhat di robean i..

Dung lam dao amang pangarantoan mi
anakku na lagu
Di haburjuhon ho do i sude amang
di sihadaoan i
Mauliate ma tadok tu Tuhan i
dinaung jinalomi amang
Jumpangmu do amang, jumpangmu do najinalahanmi
Read More.....

ANAK NA TARPUNJUNG

(Cipt. Anton Siallagan)

1.
Timbo massai timbo do da inong
Dolok simarjarunjung
Nalao panatapan, nalao panailian
Nalao panailian


2.
Dangol massai dangol do da inong
Au anak na tar punjung
Nasopot so mar ama
Nasopot so marina
Nasopot so marina

Reff.
Sugar ma nian, jongjong ma au di doloki
Hu timbung taoi, dalan tu pandeleani
Among …
hassit ni anak na tarpunjung on
Among …
hassit ni anak na tarpunjung on
Inang ………
Read More.....

ANAK MEDAN

1.
Anak medan, Anak medan
Anak medan do au, kawan
Modal pergaulan boido mangolu au
Tarlobi dipenampilan
main cantik do au, kawan
Sonang manang susah happy do diau


coda
Nang pe 51, solot di gontinghi
Siap bela kawan berpartisipasi
378 Sattabi majo disi
Ada harga diri mengantisipasi

Reff:
Horas, pohon pinang tumbuh sendiri
Horas, tumbuhlah menantang awan
Horas, biar kambing di kampung sendiri
Horas, tapi banteng di perantauan

2.
Anak medan, Anak medan
Anak medan do au, kawan
Susah didonganku soboi tarbereng au
Titik darah penghabisan
ai rela do au kawan
Hansur demi kawan ido au kawan

Back to coda…
Read More.....

AMANG NA BURJU

1
Na uju I, di haposoon hi Amang
Hutuntun lomokhi
na sai mangarsak rohami
Sai naeng mandele Ho
marnida pangalahokhi
Marulak lobi do podam tu ahu Amang
Ale amang parsinuan


2.
Huingot do sude podam nasailaon
Naingkon do somba
marhula-hula i amang
Jal manat ma ho
mardongan tubu i amang
Elek marboru, somba tu dongan i
Ido podam tu ahu amang

Reff 1.
Martua ho ale amang na maranakhon i
Jala torop maribur do pinomparmi
Marsianjuan do sude amang, marsitungkolan do sude amang
Sai pasu-pasu ma sude pinomparmon, amang na lagu

Reff 2.
Marture do sude amang da na niulami
Dapotmu do amang upa ni lojami
Sai tu ganjang na umurmi amang
Saur matua ho ale amang
Mauliate ma tadok tu Tuhan i
Amang Na Burju
Read More.....

ALUSI AHU

1.
Marragam-ragam do anggo sitta-sitta
di hita manisia
Marasing-asing do anggo pangidoan
di ganup-ganup jolma
Hamoraon hagabeon hasangapon
ido di lului na deba
Dinadeba asalma tarbarita goarna tahe


2.
Anggo di au tung asing do sitta-sitta asing pangidoanku
Mansai ambal pe unang pola mangisak, hamu tahe di au
Sasude na nahugoari i da dai saut di au
Sita-sita di au tung asing situtu do tahe

Reff.
Tung holong ni roham i sambing
do na huparsita – sita
Tung denggan ni basam
lagumi do nahupaima – ima
Asi ni roham ma ito,
unang loas au maila

Beha roham
dok ma hatam
Alusi au…

Alu… si… au…
Alu… si… au…
Di baheni alu… si… au
Alu… alusi au, alusi au
Read More.....

ALAI AHU DO GEMMA

Reff.
Alai ahu do gemma inang
Do gemma inang doge (doge-doge)
Alai ahu do gemma inang
Do gemma inang doge


1.
Tudia ma inang da sai luluan
Da dangka-dangka da inang
Da bahen soban
Sai tudia ma inang da sai luluan
Boru sinaga da inang
Da bahen dongan

Alai ahu do gemma…..

2.
Met-met sai met-met dope singkoru
Da nunga dihandang-handangi da inang
Sai met-met (2x) dope siboru ale inang
Da nunga di tandang-tandangi da inang

Alai ahu do gemma…..

Read More.....

ALA TIPANG

1.
Ramba dia ramba muna da ito,
riong-riong ramba naposo
Marga dia marga muna da ito
Sapa-sapa naso umboto


Reff.
Ala tipang, tipang, tipang tolo lebaya
Ala gudem, gudem, gudem pong
Ala tipang, tipang, tipang tolo lebaya
Ala gudem, gudem, gudem pong

2.
I anggo ramba nami da ito
Parasaran ni ambaroba
I anggo marga nami da ito
Indada tarpaboa-boa

Back to Reff,

3.
Djolo tiniptip sanggar da ito
Sai bahen huru-huruan
Djolo sinungkun marga da ito
Asa binoto partuturan
Read More.....

ALA NI TUAK

1.
Sian najolo pe ito
Nunga hudokhon i tu ho
Magodang di lapo tuak do ahu ito
Molo so minum tuak ahu
Sagalas pe saborngin i
Dang boi ro ahu mandapothon ho


2.
Hutanda pe ho ito
Tong do ala ni tuak i
Alai holongku dang ala ni tuak i
Hape sonari hasian
gabe mandao ho sian ahu
didokhon ho ma ala ni tuak i

Reff 1.
Minum tuak pe ahu ito
Hormat do ahu tu tulang i
Minum tuak pe ahu ito
Hormat do nantulang i
Minum tuak pe ahu ito
Dang na laho mabuk ahu
Asa lam bagak do
Ho dirohangki

Reff 2.
Minum tuak pe ahu ito
So hea manembak ahu
Minum tuak pe ahu ito
Hepengku do manggarar i
Minum tuak pe ahu ito
Dang na laho tenggen ahu
Asa lamu hot do
Ho dirohangki
Read More.....

ALA NI SARJANA

1.
Boasa ma undukkonon mu
Anggo na lao marsirang
Tung so hurimpu
Tung so huboto do
Da gotaponmu hasian
Harapan hi


2.
Manat manat majo pingkiri
Jala nenget rimang rimangi
Alani arta ma hasian
Ingkon tinggal ma au hape
Napogos on

Reff
Hape ro sidoli na jogi
Na ro manopot ho ito
Jala huhut naung sarjana
Jala anak ni namora I

3.
Nungnga gabe di gali ho be
Lombang naso boi timbungon hi
Jala nungnga di gorgai ho be
Dalan mu pasidinghon au
Da hasian

Back to Reff…..


Read More.....

ALA NI SANGIRIS

(Cipt. Jhonny S. Manurung)

1.
Hata naung ni unduk i
Tungnaso jadi muba-uba, hasian
Salpupe nang angka taon
Anggo tung padan nasa jadi si osean


2.
Nangpe gaor galumbangi
Naingkon do dalangeanta, hasian
Unang alani sangiris
Da gabe hurang sabalanga da ito

Reff.
Anggo hatanta daito
Tung naso jadi sirang
Hape dungkon, tundal ma au
Borhat lao tu nadao
Laos songonni da holong mi
Man dao … sian au

Back to (2)
Read More.....

ALA NI PARENDEON

Ala ni parendeonkhi ma
Matua daging so ni hilala dainang
Tung godang do hudalani
Da rohangki holan marsak dainang


Di tonga ahu tarsunggul,
margitar ahu, marende
Tangis tarilu ahu disi,
ungun na i, di borngi i

Ala ni parendeonkhi ma
Da rohangki holan na marsak dainang
Read More.....

AJARI MANJOU OMPUNG

1.
Songon na patiop-tiop aek di bulung ni suhat, ahu marmudu-muduhon ho
Nang di tingki sihaetehonmu
Sahat tu na magodang ho amang
Ahu na pasari-sari ho
Hubolus do na hansit, na parir, nang na bernit pasingkolahon ho
Anggiat ho hasea haduan


2.
Dungkon sae singkolam di huta
Hupaborhat do ho, borhat tu parjalangani
Marhaposan ahu tu tangiangku
Tangiangku mardongan ilungki
Holongku maranakhon i
Dok-dok di rohangku, dao sian lambungku, hutaon do I amang
Na lao ngolum-ngolum do haduan

Reff 1.
Hape so sian panagamanki
Songgot do ro baritami
Na paboahon ho lao mangoli
Pangidoanmu tongosonku do
Sude tu na hombar tusi
Tutur pinangidom hu tongos do

Sindor tano maraek
Suda tano mahiang
Tungkis ma dohot puro
Tolap ni gogokhi hubahen do
Mangoli do ho sian na denggan


Reff 2.
Nga tung mansai leleng amang
Tung so hear o baritam
Sungkun-sungkun do rahangki amang
Barita ni pahompuki amang
Nang dohot parumaenki
Boha do i nuaeng parngoluonna i.

Unang ma ho tarlupa
Lao paboa barita
Ajari pahompuku
Ajari ma amang manjou ompung
Masihol ahu tu pahompuki.

Read More.....

AI NUNGA SEGA

1.
Tumagon nama ahu mate hasian
Molo so saut tu ho, molo so saut tu ho
Manang tu paningkotan hasian
Asa sombu roham, asa sombu roham


Reff.
Da nunga sega ahu ito
Holan na mamingkiri ho
Tu pandelean nama ahu lao
Molo so saut tu ho ito

Arian nang bodari
sai tu ho do lao rohangku
Mangan pe solangku
modom pe so nok matangku
Hansur ahu ito..

Read More.....

AI BOASA MA HITA INGKON JUMPANG

1.
Leleng ahu tarpaima-ima
harorom ditingki hasian
Gabe managam sisoada ma ahu dipadanmi
Aut huboto ma nian hasian tudia ho dapothononku
Ai dang pola songonon taononku parirna i


Ai boasa ma hita hita ingkon jumpang
Dung martopi bogas hi hasian
Sohuboto be mandok manang aha hasian, hasian…

Gabe marbahir ma holong ni rohangku
Dung huboto ho dilambungku
Gabe songon na marnipi ma ahu mida rupami

Tangiangkon ma ahu asa gabe
Tu siboru naung gabe rongkaphi
Suang songoni pe nang ho ito gabema, gabe ma…
Read More.....

Monday, April 18, 2011

Apa Kata TUHAN tentang Cinta???

  1. Cinta adalah pencipta keindahan terhebat (Tim 2:9-10)
  2. Cinta adalah suatu wujud keinginan;dalam niat dan tindakan (1 Yoh 3:18)
  3. Cinta harus menjadi dasar dari segala sesuatu (1 Kor 13:3)
  4. Rumus untuk mencapai hubungan yang sukses:Perlakukan semua bencana seperti masalah sepele, tetapi jangan pernah memperlakukan masalah sepele seperti sebuah bencana. (Filipi 4:5)
  5. Tidak ada yang dapat mengimbangi besarnya nilai kenangan bersama: kenangan melalui masa sulit bersama (2 Tim 1:2-3)
  6. Kita dapat menjaga kehidupan cinta kita bila menjadikannya sebagai prioritas dalam kehidupan kita. (Kid 4:16)
  7. Cinta selalu percaya akan adanya mukjizat. (Roma 8:28)
  8. Cinta membuat segala sesuatu menjadi ringan. (Mat 11:28)
  9. Ketika cinta harus menanggung sesuatu, ia tidak akan dianggap sebagai beban. (Mat 11:30)
  10. Cinta memberikan segala – galanya dengan tidak mengharapkan balasan.(Yoh 3:16)
  11. Cinta kekanak-kanakan berkata: “Aku mencintaimu karena aku membutuhkanmu.” Cinta dewasa berkata: “Aku membutuhkanmu karena aku mecintaimu.” (1 Yoh 3:16)
  12. Cinta memang benar seperti yang terdengar,terlihat,tertulis, dan dibicarakan banyak orang. Cinta patut diperjuangkan dengan mempertaruhkan semua yg ada untuk mendapatkannya. (1 Yoh 3:1)
  13. Cinta adalah suatu pencarian (Gal 5:14)
  14. Kebiasaan terlihat indah di dalam cinta. (2 Kor 8:12)
  15. Keuntungan cinta pada pandangan pertama adalah memperlambat pandangan yang kedua. (Roma 5:8)
  16. Cinta adalah satu-satunya gairah yang memasukkan kebahagiaan orang lain dalam mimpinya. (Yoh 14:1-3)
  17. Cinta adalah satu-satunya usaha yang sangat boros:meskipun cinta itu diberikan, dibuang, disebarkan, dikosongkan dari perbendaharaan anda, anda akan memiliki lebih banyak dari semula. (Luk 6:38)
  18. Untuk mencintai seseorang, kita hanya dapat megharapkan kebaikan baginya. (1 Kor 10:24)
  19. Cinta mengubah semua hati yang keras menjadi lembut. (Roma 8:6)
  20. Kebersamaan menguatkan cinta. (Fil 1:7)
  21. Ketidakhadiran mempertajam cinta. (2 Tim 1:4)
  22. Cinta adalah apa yang telah kita alami bersama dengan seseorang. (KIS 20:31-32)
  23. Hargailah kebajikannya. Jangan terlalu melihat kesalahan-kesalahannya.(Kid 5:16)
  24. Bagaimana aku dapat mencintaimu ? Izinkan aku melakukan banyak hal untuk menunjukkan cintaku. (Hosea 3:1)
  25. Pembicaraan intim dengan pasangan dapat meringankan beban perjalanan yang penuh dengan tantangan.(Kid 4:1)
  26. Pertahankan hal-hal yang sudah disetujui bersama dan rundingkan hal-hal yang dapat dikompromikan. (Filipi 2:4)
  27. Cinta bukan hanya saling memandang satu sama lain, namun bersama-sama melihat pada satu tujuan. (KIS 2:44-45)
  28. Cinta memenuhi dan menyelesaikan banyak hal ketika salah satu dari pasangan tidak berdaya dan tidak berpengharapan. (Pengkhotbah 4:10)
  29. Tidak ada satu bagianpun yang ada padamu yang tidak aku ketahui, tidak kuingat, dan tidak kuinginkan.(Kid 5:2)
  30. Tiada hubungan yang tidak bermasalah. (P’khotbah 7:29)
  31. Cinta berani mengambil resiko untuk melihat impian pasangan anda menjadi kenyataan. (1 Pet 3:6)
  32. Kita dapat memberi tanpa mengasihi, tetapi kita tidak dapat mengasihi tanpa memberi. (Ams 20:22)
  33. Cinta memerintah tanpa pedang. Cinta mengikat tanpa tali. (2 Kor 3:17)
  34. Anda tidak bisa membuat saya berduka bila saya memiliki cinta. (Roma 8:1-2)
  35. Tidak ada yang kalah atau menang dalam suatu konflik, tetapi itu akan menjadi terobosan baru menuju pengertian yg lebih baik satu sama lain.(Roma 13:10)
  36. ”Aku mencintaimu”. Itu berarti: “kamu, kamu,kamu dan hanya kamu seorang.” (1 Pet 3:7)
  37. Pernikahan bagaikan proses pembedahan karena sifat ingin dipuji dari seorang wanita dan sifat mementingkan diri sendiri dari seorang pria diambil tanpa memakai obat bius. (1 Kor 13:5)
  38. Pernikahan adalah petualangan menuju keintiman, sedangkan keintiman adalah keterbukaan seseorang terhadap yang lain. (Roma 12:9)
  39. Tujuan pernikahan bukan untuk mempunyai pikiran yang sama, tetapi bagaimana supaya berpikir secara bersama-sama. (Ef 4:3)
  40. Pernikahan yang sukses membutuhkan jatuh cinta berulang kali kepada orang yang sama. (1 Pet 1:22)
Read More.....

Tuesday, March 1, 2011

Aha so Aha


1.
Aha so aha nunga mardandi
Dia so dia nga lao mangimbas
Sangkababa dope nidok
nga patubek-bek ho tu ahu
Sambor ma nipi marhamlet dohot ho

2.
Anggo di rupa ho do umbagak
Dohot di gaya ho do unggila
Hape roma pangalaho
ganup ari morong-orong
Ala sundat do tinuhor henponmi

Reff.
Hei..hei..hei..boru adi
Dang holan rupa na hu gulut sian ho
Hei..hei..hei..boru adi
Pangalahom ai tung pauba ma hasian

Molo dungkon tu ulaon
magurbak ma ulum
Alai mangan marpura-pura hurummi
Tinogihon tu Gareja dokdok ma dugul mi
Ia tu café lobi-lobi kupu-kupu.
Read More.....

Aha na Sala


1.
Aha do ito murukmu tu ahu
Dia do ito na sala hu bahen
Gabe sai hohom, sai sip ho tu ahu
Da hasian

2.
Molo tung adong na hurang
Pambahenanki asing di roham
Dokhon ma ito paboa tu ahu
Ito na lagu

Reff.
Molo sai sip do ho hasian
Molo mandao do ho sian ahu
Marsak do ahu, marsak do ahu
Haholongan

Molo adong pe sala hu bahen
Denggan ma dok ito ito hasian
Asi roham di ahu ito
Anju ma ahu
Read More.....

Aha ma Natau Sidohononku


1.
Ahama natau si ingotonku
da sian ho ito dahasian
Arian borngin sai tuma tangis au
lao mamikkiri pangalahom
Ido na mambaen au
gabe mandele tu ho ito

2.
Molo songoni nama ujungna
tumagonanma hita marsirang
nangpe didokhon ho
holong roham tu ahu
ai dang tu ahai da hasian
anggo rohangki ito
tung na so mulak tu ho ito

Reff.
Boasa dung saonari gabe muba
dunkkon malala rohangki dibaen ho
sai hubilang bilangi dirohangku
tumagonan ma dao au sian ho
dang rongkap ni tondi
naingkon marsirang hita nadua
Read More.....

Agustus Parsirangan


1.
Ro do ahu sian luat nadao
Laho mandapothon ho
Ala huboto ari ulang tahun mi
Tanggal sada di bulan agustus i
Paboa na holong rohangki tu ho

2.
Dung sahat ahu ito dahasian
Dijolo jabu mi
Tarsonggot ahu hubereng ma namasa i,
Rappak hundul ho dohot sidoli i,
Na mandonganni ho ulang tahun mi,

Reff:
Naeng mandele ahu ito,
Dung hubereng ho ito,
Rap mengkel jala rap marsigotilan,
Paula so diboto ho,
Paula so dibereng ho,
Hansit ni rohangki dibahen ho,

Aut so sala da ito,
Laho tu panikkotan i
Na ingkon timbungonku lombang i,
Asa sombu roham,
Marnida ahu na tininggalhonmon
Read More.....

Thursday, February 24, 2011

Aek Sibulbulon

AEK SIBULBULON

1.
Di aek sibulbulon i
Huta sionom hudon i
Disi do parlao ni appung
Sisingamangaraja i


2.
Dihaol do boru na i
Boru Lopian nauli
Dungi tarmudar oppu i
Subang naso halaosan i

Reff 1
Raja na sian bangkara
Raja namarsahala i
Taingot ma raja ta i
Mulak tu nampunasa i x2

3.
Poda dohot tona na i
Ingkon ingot di roha i
Hita na tinadingkon na
Taihuthon na nidok na i

Reff. 2
Agoan hita sude disi
Diparlao ni oppu ujui
Taingot ma raja ta i
Mulak tu nampunasa i x3


Read More.....

Aek Sibundong

AEK SIBUNDONG

1.
O aek sibundong da nauli
Parharsap mi massai uli
Tudos hapas palembang i
Madabu tu sampuran i


2.
O aek sibundong….
Aek sibundong da nauli
Lao tudia na maho
Tolong pasahat tonakkon
Tu siboru pargaulan ki

Reff.
Ilu maraburan sian simalolongki
Alai boha roham tu au dahasian

Molo masihol ho tu au
Baen ma aek tu tangan mi
disi targombar bohikki
disi do au

Lao ma ho tu aek i
Ima aek sibundong i
Di dolok sanggul na uli
Disi do au

Read More.....

Tortor Batak

Apakah Tortor itu?

Hampir semua kegiatan adat masyarakat dilakukan dalam bentuk tortor dan gondang sabangunan, baik dalam pesta adat perkawinan, pesta peresmian rumah parsattian, pesta tugu, pesta membentuk huta/perkampungan juga pesta adat kematian orangtua, bahkan kalangan pemuda menggelar "pesta naposo"sebagai ajang hiburan dan perkenalan (mencari jodoh). Pesta Naposo, di beberapa daerah disebut juga pesta rondang bulan (Samosir), pesta rondang bintang (Simalungun.


Tortor Merupakan Makna Kehidupan Seni-Budaya Orang Batak


Gerak tari sebagai bagian dari seni budaya merupakan refleksi dan perwujudan dari sikap, sifat, perilaku dan perlakuan serta pengalaman hidup masyarakat itu sendiri. Dalam tarian tergambar cita rasa, daya cipta dan karsa dari sekelompok orang-orang. Tortor Batak selalu diiringi oleh musik tradisional gondang sabangunan. Tortor Batak juga menggambarkan pengalaman hidup orang Batak dalam kehidupan keseharian, gembira/senang, merenung, berdoa/menyembah, menangis, bahkan keinginan-cita-cita dan harapan dan lain sebagainya dapat tergambar dalam Tortor Batak.

Dapat digambarkan bahwa tortor Batak memaknai kehidupan seni-budaya Batak, persoalannya apakah bertentangan dengan agama atau tidak tergantung kepada cara pandang dan pemahaman kita. Bahkan akhir-akhir ini, justru dalam kebaktian agama (gereja) tortor dan gondang Batak telah menjadi bagian dan pendukung acara kebaktian (misalnya lakon pengakuan dosa dan mengantar persembahan digambarkan/dikoreografis dengan tortor Batak). Gambaran kehidupan orang Batak sebagaimana direfleksikan dalam tortor Batak tentu akan dapat dipahami melalui urut-urutan dan nama musik gondang yang diminta oleh tetua kelompok (paminta gondang), biasanya didahului dengan Gondang Mula-mula, Gondang Somba, Gondang Mangaliat, Gondang Simonang-monang, Gondang Sibungajambu, Gondang Marhusip, dan seterusnya yang diakhiri dengan Gondang Hasahatan Sitio-tio. Demikian juga tortor/gerakan yang dilakonkan akan berbeda sesuai dengan irama dari gondang yang dibunyikan oleh Pargonsi (Pemusik).

Bagi mereka yang mengetahui, memahami dan menikmati irama gondang dan tortor akan menyadari betul apa yang digambarkan dan dimaknai tortor yang dipagelarkan. Dengan demikian, semua orang Batak dapat manortor tetapi tidak semua disebut panortor (penari) atau "pandai manortor" karena untuk menjadi panortor Batak haruslah memiliki talenta dan latihan yang kontinu.


Perangkat yang Digunakan dalam Tortor Batak

Dalam melakonkan Tortor, sudah barang tentu tidak sekedar membuat gerak tangan, kaki atau badan, juga gerak mata (pandangan) dan ekspressi (mimik) tetapi juga musik pengiring yang dipergunakan harus berirama Batak yakni gondang sabangunan yang terdiri dari taganing, ogung (doal, panggora, oloan), sarune, odap gordang dan hesek, sebab gerakan manortor harus mengikuti irama/rytme perangkat musik tersebut.

Selain itu, pakaian yang lazim digunakan juga harus sesuai dengan motif Batak, misalnya selendang atau ulos yang dipakai tergantung maksud dan tujuan acara-pesta seperti ulos sibolang, ragi idup, tali-tali, suri-suri dan sebagainya

Sebagaimana disebutkan di atas bahwa gerak tortor Batak berbeda dalam setiap jenis musik yang diperdengarkan dan berbeda pula gerak tortor laki-laki dan gerak tortor perempuan. Menurut para pemerhati tortor, bahwa tortor yang dilakonkan juga dibedakan antara tortor raja dengan tortor natorop.

Sementara perangkat lain dalam acara tortor Batak biasanya harus ada orang yang menjadi pemimpin kelompok tortor dan pengatur acara/juru bicara (paminta gondang), untuk yang terakhir ini sangat dibutuhkan kemampuan untuk memahami urutan gondang dan jalinan kata-kata serta umpasa dalam meminta gondang. Bagaimanapun juga, tortor Batak adalah identitas seni budaya masyarakat Batak yang harus dilestarikan dan tidak lenyap oleh perkembangan zaman dan peradaban manusia. Dalam tortor Batak terdapat nilai-nilai etika, moral dan budi pekerti yang perlu ditanamkan kepada generasi muda.


Prinsip dalam Manortor


Selain perangkat pakaian manortor sebagaimana disebut diatas, ada beberapa prinsip manortor (tortor) yang harus diperhatikan oleh panortor/penari antara lain :

Untuk manortor, setiap orang harus berdiri dengan sikap sempurna (berdiri di atas kedua telapak kaki), pandangan rata kedepan.

Setiap acara harus dimulai dengan gondang/tortor mula-mula, atas permintaan juru bicara (paminta gondang)

Mulailah bergerak/manortor setelah serunai (sarune) sudah berbunyi dalam 1 x 8 hitungan, jadi ukuran waktu untuk mulai manortor bukan bunyi gondang/taganing atau ogung. (ingat : tek-tek mula ni gondang, serser mulani tortor)

Perhatikan kecepatan irama gondang dan sarune untuk disesuaikan dengan gerak tangan dan gerak kaki.

Birama dan ketukan dari musik Batak dapat dihitung misalnya 1 atau 2 kali 8 ketukan dengan tambahan ketukan sebagai interval dan biasanya digunakan untuk mengganti gerakan manorto

Pada gondang mula-mula, sebaiknya tangan dirapatkan diperut dan kemudian diangkat bersama-sama (tutup rapat) hingga ujung jari setinggi hidung, bagi perempuan biasanya pandangan diarahkan ke ujung jari tadi atau ke ujung hidung, sehingga tidak terkesan ”mata liar”

Pada gondang somba (menyembah), biasanya panortor akan bergerak dengan tangan/jari rapat seperti ”menyembah” dan bergerak berputar kekiri dan kekanan sesuai irama gondang, badan posisi berdiri tegak setelah itu kembali tutup tortor dengan tangan diatas perut.

Pada gondang berikutnya, sesuai dengan jenis gondang yang diminta, panortor memulai dengan posisi tangan seperti point no. 6, dan kemudian sudah dapat membuka tangan-merenggangkan jari, melenggangkan ke kiri kanan atau ke atas pundak, tetapi tangan harus terbuka (menggambarkan tidak ada yang disembunyikan). Biasanya perempuan akan melenggangkan tangannya ke kiri dan ke kanan, satu melekat di pinggang dan satu melekat di depan dada (mungkin menjaga/menangkis sentuhan orang lain), kedua tangan bergantian melenggak-lenggok, baik dalam posisi berdiri atau jongkok.

Dalam tortor batak, tangan digerakkan pada bagian jari dan pergelangan tangan, sehingga yang belum terbiasa akan terasa sakit, demikian juga kaki tidak dihentakkan tetapi seperti menjinjit yang bergerak pada bagian ujung jari kaki , sementara pada bagian bokong tidak bergerak ke kiri-kanan seperti berjoget.

Bagi panortor Batak, akan kelihatan bahwa sesungguhnya yang bergerak bokong tetapi pada bagian pinggang, demikian juga tangan keseluruhan tetapi lengan pada bagian pergelangan hingga jari tangan dengan bentuk sedikit melengkung pada bongkol induk jari (karenanya bagi mereka yang sungguh-sungguh serius manortor pada awalnya merasa sakit pada kepalan tangan/jari dan lengan).

Setiap akhir tortor harus diikuti dengan gerak penutup yakni kedua tangan kembali berada diatas perut

Untuk tortor yang dipertandingkan/festival, sesungguhnya panortor tidak diperkenankan memakai perhiasan, termasuk alas kaki (sepatu) atau sandal karena dalam tortor Batak ada gerak manerser (bergeser) dengan kaki telanjang.

Untuk gondang hasahatan/sitio-tio (akhir dari acara), semua panortor mengangkat ulos dengan dua tangan dan pada hitungan 2 atau 3 x 8 ketukan gondang dan bersama-sama menyebut horas 3 x.


Prinsip-prinsip yang disebutkan diatas adalah prinsip dasar yang tidak boleh dilupakan oleh setiap orang yang menggelar tortor Batak sebab itulah yang membedakan dan menjadi karakteristik dari tortor Batak.


Jenis Tortor Batak dan Kriteria Penilaiannya

Jenis-jenis tortor yang ada sampai saat ini adalah :

1. Tortor dalam pesta adat (tortor adat);
2. Tortor dalam acara kegembiraan (sukacita);
3. Tortor dalam acara kesedihan (duka), perenungan;
4. Tortor dalam acara kebaktian gereja (memuji Tuhan);
5. Tortor untuk kepentingan hiburan dan pariwisata (komersil;
6. Tortor patung kayu (Sigale-gale),Siboru Manggale (terjadinya Dalihan Natolu)

Dari jenis/kategori tortor yang disebutkan diatas, tortor Batak yang biasanya difestivalkan adalah tortor adat dan tortor hiburan/kreasi baru, dengan harapan untuk pelestarian seni budaya tortor, sehingga untuk siap difestivalkan atau diperlombakan, panitia harus menyediakan patokan gerak atau partitur dari tortor serta gondang pengiringnya.

Hal-hal yang dapat dijadikan kriteria penilaian adalah

* Koreografi, yakni bentuk dan pola tari yang dipertunjukkan
* Pemahaman atas prinsip-prinsip Tortor Batak
* Wirama yakni keserasian gerak tari dengan irama musik gondang
* Wiraga yakni gaya dan kegemulaia
* Wirasa yakni kemampuan berekspressi
* Penampilan, yakni keharmonisan busana dan tata rias.




Read More.....

Curriculum Vitae

Basic Identity
Full Name : Benardo Nababan, S.Pi
Place/Date of Born : Pealangge/ 2 Agustus 1985
Religion : Kristen Prostestan
E-mail : nababanbenardo@yahoo.com
Hobby : Football, Badminton, and Singing


Family :
1. R. Nababan (Father)
2. T. br Lumbantoruan (Mother)
3. Renghard E Nababan (Oldest Brother)
4. Harapan M Nababan (Young Brother)
5. Tuty B S Nababan (Sister)
6. Korem M Nababan (Young Brother)
7. Delmawati Nababan (Youngest Sister)
8. Joko P Nababan (Youngest Brother)

Educations :

S1, Fisheries Resourches Utilization, Fisheries and Marine Science Faculty, Bogor Agricultural Institute (2004 -2008);

SMU Negeri 1 Siborongborong, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara (2001 - 2004);

SLTP Negeri 1 Siborongborong, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara (1998 - 2001)

Sekolah Dasar Inpres Negeri No. 177045, Pealangge, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara (1992 -1998)


Organization Experiences :

Himpunan Mahasiswa Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan (HIMAFARIN), Departemen Penelitian dan Pengembangan Keprofesian Periode 2004/2005 (Member);

Youth Church in HKBP Paledang, Bogor Tahun 2005 – 2008 (Member);

Komisi Pelayanan Khusus UKM Persekutuan Mahasiswa Kristen IPB Periode 2006/2007 (Coordinator);

Keluarga Mahasiswa/i Asal Siborongborong dan Sekitarnya di Perantauan Bogor (GAMASINTAN) Periode 2006/2007 (Chief);

Panitia Perayaan Natal Civitas Akademika (CIVA) Intitut Pertanian Bogor 2007 (Chairman);


Workings and Others Experience

Tata Operational Staff in Kejawanan National Fishing Port, Ministry of Marine Affairs and Fisheries (March 2010 – February 2011);

Employee of PT. Exsamap Asia as 3D Edit Technician (November 2008 – February 2010);

Mathematics SMU dan MIPA SMP Teacher in bimbingan belajar Prospek Insan Mandiri Bogor (September – November 2008);

Lectuler Assistant of Pendidikan Agama Kristen Protestan 2005 and 2007, Metode Statistika 2006, Perancangan Percobaan 2007, Metode Optimasi Penangkapan Ikan 2007 and Daerah Penangkapan Ikan 2008.
Read More.....