Apakah Tortor itu?
Hampir semua kegiatan adat masyarakat dilakukan dalam bentuk tortor dan gondang sabangunan, baik dalam pesta adat perkawinan, pesta peresmian rumah parsattian, pesta tugu, pesta membentuk huta/perkampungan juga pesta adat kematian orangtua, bahkan kalangan pemuda menggelar "pesta naposo"sebagai ajang hiburan dan perkenalan (mencari jodoh). Pesta Naposo, di beberapa daerah disebut juga pesta rondang bulan (Samosir), pesta rondang bintang (Simalungun.
Tortor Merupakan Makna Kehidupan Seni-Budaya Orang Batak
Gerak tari sebagai bagian dari seni budaya merupakan refleksi dan perwujudan dari sikap, sifat, perilaku dan perlakuan serta pengalaman hidup masyarakat itu sendiri. Dalam tarian tergambar cita rasa, daya cipta dan karsa dari sekelompok orang-orang. Tortor Batak selalu diiringi oleh musik tradisional gondang sabangunan. Tortor Batak juga menggambarkan pengalaman hidup orang Batak dalam kehidupan keseharian, gembira/senang, merenung, berdoa/menyembah, menangis, bahkan keinginan-cita-cita dan harapan dan lain sebagainya dapat tergambar dalam Tortor Batak.
Dapat digambarkan bahwa tortor Batak memaknai kehidupan seni-budaya Batak, persoalannya apakah bertentangan dengan agama atau tidak tergantung kepada cara pandang dan pemahaman kita. Bahkan akhir-akhir ini, justru dalam kebaktian agama (gereja) tortor dan gondang Batak telah menjadi bagian dan pendukung acara kebaktian (misalnya lakon pengakuan dosa dan mengantar persembahan digambarkan/dikoreografis dengan tortor Batak). Gambaran kehidupan orang Batak sebagaimana direfleksikan dalam tortor Batak tentu akan dapat dipahami melalui urut-urutan dan nama musik gondang yang diminta oleh tetua kelompok (paminta gondang), biasanya didahului dengan Gondang Mula-mula, Gondang Somba, Gondang Mangaliat, Gondang Simonang-monang, Gondang Sibungajambu, Gondang Marhusip, dan seterusnya yang diakhiri dengan Gondang Hasahatan Sitio-tio. Demikian juga tortor/gerakan yang dilakonkan akan berbeda sesuai dengan irama dari gondang yang dibunyikan oleh Pargonsi (Pemusik).
Bagi mereka yang mengetahui, memahami dan menikmati irama gondang dan tortor akan menyadari betul apa yang digambarkan dan dimaknai tortor yang dipagelarkan. Dengan demikian, semua orang Batak dapat manortor tetapi tidak semua disebut panortor (penari) atau "pandai manortor" karena untuk menjadi panortor Batak haruslah memiliki talenta dan latihan yang kontinu.
Perangkat yang Digunakan dalam Tortor Batak
Dalam melakonkan Tortor, sudah barang tentu tidak sekedar membuat gerak tangan, kaki atau badan, juga gerak mata (pandangan) dan ekspressi (mimik) tetapi juga musik pengiring yang dipergunakan harus berirama Batak yakni gondang sabangunan yang terdiri dari taganing, ogung (doal, panggora, oloan), sarune, odap gordang dan hesek, sebab gerakan manortor harus mengikuti irama/rytme perangkat musik tersebut.
Selain itu, pakaian yang lazim digunakan juga harus sesuai dengan motif Batak, misalnya selendang atau ulos yang dipakai tergantung maksud dan tujuan acara-pesta seperti ulos sibolang, ragi idup, tali-tali, suri-suri dan sebagainya
Sebagaimana disebutkan di atas bahwa gerak tortor Batak berbeda dalam setiap jenis musik yang diperdengarkan dan berbeda pula gerak tortor laki-laki dan gerak tortor perempuan. Menurut para pemerhati tortor, bahwa tortor yang dilakonkan juga dibedakan antara tortor raja dengan tortor natorop.
Sementara perangkat lain dalam acara tortor Batak biasanya harus ada orang yang menjadi pemimpin kelompok tortor dan pengatur acara/juru bicara (paminta gondang), untuk yang terakhir ini sangat dibutuhkan kemampuan untuk memahami urutan gondang dan jalinan kata-kata serta umpasa dalam meminta gondang. Bagaimanapun juga, tortor Batak adalah identitas seni budaya masyarakat Batak yang harus dilestarikan dan tidak lenyap oleh perkembangan zaman dan peradaban manusia. Dalam tortor Batak terdapat nilai-nilai etika, moral dan budi pekerti yang perlu ditanamkan kepada generasi muda.
Prinsip dalam Manortor
Selain perangkat pakaian manortor sebagaimana disebut diatas, ada beberapa prinsip manortor (tortor) yang harus diperhatikan oleh panortor/penari antara lain :
Untuk manortor, setiap orang harus berdiri dengan sikap sempurna (berdiri di atas kedua telapak kaki), pandangan rata kedepan.
Setiap acara harus dimulai dengan gondang/tortor mula-mula, atas permintaan juru bicara (paminta gondang)
Mulailah bergerak/manortor setelah serunai (sarune) sudah berbunyi dalam 1 x 8 hitungan, jadi ukuran waktu untuk mulai manortor bukan bunyi gondang/taganing atau ogung. (ingat : tek-tek mula ni gondang, serser mulani tortor)
Perhatikan kecepatan irama gondang dan sarune untuk disesuaikan dengan gerak tangan dan gerak kaki.
Birama dan ketukan dari musik Batak dapat dihitung misalnya 1 atau 2 kali 8 ketukan dengan tambahan ketukan sebagai interval dan biasanya digunakan untuk mengganti gerakan manorto
Pada gondang mula-mula, sebaiknya tangan dirapatkan diperut dan kemudian diangkat bersama-sama (tutup rapat) hingga ujung jari setinggi hidung, bagi perempuan biasanya pandangan diarahkan ke ujung jari tadi atau ke ujung hidung, sehingga tidak terkesan ”mata liar”
Pada gondang somba (menyembah), biasanya panortor akan bergerak dengan tangan/jari rapat seperti ”menyembah” dan bergerak berputar kekiri dan kekanan sesuai irama gondang, badan posisi berdiri tegak setelah itu kembali tutup tortor dengan tangan diatas perut.
Pada gondang berikutnya, sesuai dengan jenis gondang yang diminta, panortor memulai dengan posisi tangan seperti point no. 6, dan kemudian sudah dapat membuka tangan-merenggangkan jari, melenggangkan ke kiri kanan atau ke atas pundak, tetapi tangan harus terbuka (menggambarkan tidak ada yang disembunyikan). Biasanya perempuan akan melenggangkan tangannya ke kiri dan ke kanan, satu melekat di pinggang dan satu melekat di depan dada (mungkin menjaga/menangkis sentuhan orang lain), kedua tangan bergantian melenggak-lenggok, baik dalam posisi berdiri atau jongkok.
Dalam tortor batak, tangan digerakkan pada bagian jari dan pergelangan tangan, sehingga yang belum terbiasa akan terasa sakit, demikian juga kaki tidak dihentakkan tetapi seperti menjinjit yang bergerak pada bagian ujung jari kaki , sementara pada bagian bokong tidak bergerak ke kiri-kanan seperti berjoget.
Bagi panortor Batak, akan kelihatan bahwa sesungguhnya yang bergerak bokong tetapi pada bagian pinggang, demikian juga tangan keseluruhan tetapi lengan pada bagian pergelangan hingga jari tangan dengan bentuk sedikit melengkung pada bongkol induk jari (karenanya bagi mereka yang sungguh-sungguh serius manortor pada awalnya merasa sakit pada kepalan tangan/jari dan lengan).
Setiap akhir tortor harus diikuti dengan gerak penutup yakni kedua tangan kembali berada diatas perut
Untuk tortor yang dipertandingkan/festival, sesungguhnya panortor tidak diperkenankan memakai perhiasan, termasuk alas kaki (sepatu) atau sandal karena dalam tortor Batak ada gerak manerser (bergeser) dengan kaki telanjang.
Untuk gondang hasahatan/sitio-tio (akhir dari acara), semua panortor mengangkat ulos dengan dua tangan dan pada hitungan 2 atau 3 x 8 ketukan gondang dan bersama-sama menyebut horas 3 x.
Prinsip-prinsip yang disebutkan diatas adalah prinsip dasar yang tidak boleh dilupakan oleh setiap orang yang menggelar tortor Batak sebab itulah yang membedakan dan menjadi karakteristik dari tortor Batak.
Jenis Tortor Batak dan Kriteria Penilaiannya
Jenis-jenis tortor yang ada sampai saat ini adalah :
1. Tortor dalam pesta adat (tortor adat);
2. Tortor dalam acara kegembiraan (sukacita);
3. Tortor dalam acara kesedihan (duka), perenungan;
4. Tortor dalam acara kebaktian gereja (memuji Tuhan);
5. Tortor untuk kepentingan hiburan dan pariwisata (komersil;
6. Tortor patung kayu (Sigale-gale),Siboru Manggale (terjadinya Dalihan Natolu)
Dari jenis/kategori tortor yang disebutkan diatas, tortor Batak yang biasanya difestivalkan adalah tortor adat dan tortor hiburan/kreasi baru, dengan harapan untuk pelestarian seni budaya tortor, sehingga untuk siap difestivalkan atau diperlombakan, panitia harus menyediakan patokan gerak atau partitur dari tortor serta gondang pengiringnya.
Hal-hal yang dapat dijadikan kriteria penilaian adalah
* Koreografi, yakni bentuk dan pola tari yang dipertunjukkan
* Pemahaman atas prinsip-prinsip Tortor Batak
* Wirama yakni keserasian gerak tari dengan irama musik gondang
* Wiraga yakni gaya dan kegemulaia
* Wirasa yakni kemampuan berekspressi
* Penampilan, yakni keharmonisan busana dan tata rias.
No comments:
Post a Comment